Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Nasi Goreng dan Organisasi

Nasi Goreng dan Organisasi

Andi Irfhana Ardhi Part # 3

Nasi goreng adalah makan asli Indonesia terfavorit kedua di dunia setelah rendang dari Indonesia dan sebelum Sushi dari Jepang, Tom yum goong dari Thailand, Pad Thai dari Thailand, Dim sum dari Hongkong, Ramen dari Jepang, Peking Duck dari China, Papaya Salad dari Thailand, dan Massaman Curry dari Thailand. Kenapa ujug-ujug aku ngebahas nasi goreng? Hm... karena saat ini aku sedang makan nasi goreng  berdua bersama kekasihku. He...


Namun yang paling menjadi perhatianku tentang nasi goreng adalah ia ada tidak berdiri sendiri tapi dibangun dari berbagai unsur makanan dan bumbunya. Ada nasi, ada garam, ada kecap, bawang merah, bawang putih, telur, daging, saus, mentimun, tomat, seladah, kerupuk, dsb.. Inilah yang menjadi perhatianku kenapa menulis tentang nasi goreng. Kelezatan nasi goreng adalah hasil dari kerjasama berberapa unsur tersebut. Itu dia keyword-nya

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa hidup sendiri. Sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk yang berada di zoon politikon, manusia memiliki ketergantungan kepada yang lain. Misalnya ketika merumuskan dan merealisasikan sebuah kegiatan organisasi, sangatlah sulit kalau masing-masing staf atau panitia berkerja sendiri-sendiri. Kemudahan dan kelancaran penyelenggaraannya salah satunya ditentukan oleh kerjasama yang apik antara semua unsur. Saling membantu, saling menyokong, saling memberikan masukan, dan saling melalkukan evaluasi merupakan bentuk kerjasama yang bisa mempermudah dan memperlancar agenda.

Secara global ada triple aksi yang bisa diupayakan oleh kita untuk mewujudkan program dalam sebuah organisasi yaitu planning, proccess dan evaluation. Maka, bekerjasamalah dalam membuat planning yang matang dan mantap. Gagal dalam merencakan sama saja dengan merencanakan gagal. Kemudian dalam mengeksekusi kegiatan juga mesti bekerjasama secara baik. Semua staf atau panitia berperan aktif menjalankan tugasnya masing-masing. Akan terlihat indah jika semua mengaplikasikan “sama-sama kerja dan bekerjasama”. Selanjutnya adalah bekerjasama dalam mengevaluasi kegiatan. Setelah kegiatan berakhir jangan sampai seluruh staf bubar begitu saja. Baiknya, beberapa saat setelah berakhirnya kegiatan atau pada waktu lain yang disepakati, lakukan evaluasi bersama-sama. Ini penting sebagai bekal dan pelajaran untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Sebagaimana arti asal organisasi itu sendiri, memperankan tugas dan amanah yang diembankan merupakan sikap terbaik. Banyak di antara pelaku oraganisasi alias organisator yang kurang bertanggungjawab dalam menjalankan organisasi. Ia lari dari masalah. Lebih mementingkan diri ketimbang amanah umat. Staf seperti inilah yang menjadi parasut organisasi yang pada akhirnya memperburuk citra organisasi di mata masyarakat.

Sekali lagi, nasi goreng itu lezat karena ada kerjasama antar berbagai unsur. Maka, organisasi pun “lezat” jika dinahkodai oleh staf yang bekerjasama secara tanggungjawab.

Jumat, 02 Maret 2012

Motivasi Berprestasi Melalui Organisasi Mahasiswa


Motivasi Berprestasi Melalui Organisasi Mahasiswa
Oleh:
Andi Irfhana Ardhi

Mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai peran besar dalam menentukan arah perbaikan bangsa ini. Sebagai manusia yang lebih tercerahkan (enlightenment people) dibandingkan kelompok masyarakat lainnya, mahasiswa seharusnya mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi di sekelilingnya. Kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi sekelilingnya ini harus berdasarkan suatu pemahaman atau pengetahuan yang nantinya dapat mendasari mahasiswa dalam bergerak. Mahasiswa sebagai elemen masyarakat yang mempunyai kekuatan untuk memperbaiki dan memperbarui kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, haruslah mempunyai kapasitas diatas rata-rata mayoritas masyarakat kita. Mahasiswa harus mempunyai pemahaman keilmuaan yang holistik, artinya berpengatahuan luas. Namun tidak cukup sebatas berpengetahuan luas saja, melainkan harus mempunyai kemampuan (skill), visi, karakter, jauh lebih maju dibandingkan kebanyakan masyarakat pada saat ini. Karena itu, mahasiswa harus sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi moralnya ini, sehingga kaum intelektual ini harus berlomba-lomba untuk berprestasi: mempunyai pencapaian diatas rata-rata kebanyakan manusia dengan kelebihan masing-masing. Tumbuhnya semangat maju dan berprestasi, berdasarkan fakta dan banyak pengalaman, bermula dari organisasi mahasiswa. Organisasi mahasiswa menjadi bagian vital dalam dunia akademik kampus yang membantu perguruan tinggi mencetak intelektual muda unggul.

Mengapa Mahasiswa?
"Pemuda dalam hal ini mahasiswa adalah sosok yang paling dinamis dan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa. Pemuda selalu hadir untuk memberikan sumbangan yang bermakna bagi bangsa Indonesia. Ia selalu tampil untuk menyuarakan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan menentang segala bentuk ketidakadilan pada zamannya”. Petikan kalimat ini adalah bisa dikatakan sebagai dasar mahasiswa untuk menyadari betul bahwa, secara historis, mahasiswa selalu mempunyai peran besar dalam penentuan sekaligus perbaikan arah bangsa ini. Sadarlah mahasiswa! bahwa mahasiswa adalah garda depan perubahan bangsa menuju masa depan lebih baik.

Motivasi Berprestasi
Motivasi berprestasi adalah suatu keinginan untuk berhasil, berusaha keras dan mengungguli orang lain berdasarkan suatu standar mutu tertentu. Selain itu, motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan atau keinginan dalam diri untuk mencapai kesuksesan yang setinggi mungkin sehingga tercapai kecakapan pribadi yang tinggi.

Semakin baik persepsi seseorang  terhadap apa yang sedang ia kerjakan, maka kemungkinan akan semakin baik hasil pekerjaan yang ia lakukan. Belajar atau melakukan sesuatu yang didasarkan pada keterpaksaan akan mempengaruhi psikis seseorang sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal karena adanya perasaan ketergantungan dan ketidaknyamanan. Dorongan untuk beprestasi harus ditumbuhkan baik dari dalam diri maupun dari luar. Dorongan dari dalam diri antara lain adalah berupa kesadaran untuk meraih hasil yang tinggi. Dorongan dari luar misalnya antara lain adalah kondisi suasana kampus, peran senior, dan organisasi mahasiswa, serta dosen. Kesadaran dari dalam diri (faktor internal) merupakan faktor yang menentukan seseorang dalam mencapai sesuatu. Faktor ekternal juga mempengaruhi seseorang dalam mencapai sesuatu tapi hanya mempengaruhi bukan menentukan. Motivasi berprestasi sangat tergantung oleh usaha dan upaya seseorang itu sendiri.

Pentingnya Motivasi Beprestasi
Motivasi berprestasi merupakan faktor primer seseorang agar berhasil mencapai sesuatu. Hal ini didasarkan atas kesadaran pribadi yang akan menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan. Mahasiswa dapat meraih prestasi tinggi jika ia mempunyai kesadaran tinggi yang dapat mendorong dirinya sendiri untuk meraih apa yang ia telah rencanakan. Kesadaran mencapai sesuatu dapat dicapai jika mahasiswa mampu memahami makna atau esensi keberadaannya di kampus dan kehidupan ini. Persepsi ini dapat dicapai mahasiswa dengan menyerap dan mengolah informasi dari lingkungannya (baca: kampus). Persepsi positif terhadap kampus dapat menumbuhkan semangat berkontribusi dan berprestasi. Mahasiswa yang mempunyai persepsi positif terhadap kampusnya mempunyai motivasi berprestasi dan berkontribusi yang jauh lebih besar. Persepsi positif terhadap almamater ditumbuhkan dengan penanaman nilai-nilai kebanggan dan kecintaan terhadap almamater sejak dini kepada mahasiswa, sehingga motivasi beprestasi dan berkontribusi kepada almamater akan terus tumbuh di hati, pikiran, dan tindakan mahasiswa. Motivasi beprestasi sekaligus berkontribusi mahasiswa kepada kampusnya mempunyai hubungan atau korelasi dengan persepsi positif mahasiswa terhadap almamaternya. Apapun kondisi dan realita kampus yang sesungguhnya serta apapun perkataan orang lain, penumbuhan kebanggaan dan kecintaan terhadap alamamater harus diarahkan kepada penumbuhan persepsi positif kepada setiap mahasiswa didalamnya. Motivasi berprestasi dan persepsi positif mahasiswa akan menentukan tinggi rendahnya hasil belajar dan kontribusi membangun almamaternya. Apalabila mahasiswa mempunyai persepsi positif terhadap apapun yang ada dikampusnya, maka ia akan cenderung untuk berpikir, merasakan, menyerap, dan berperilaku positif dalam rangka membangun kejayaan almamater atau kampusnya.

Terbentuknya Motivasi Berprestasi
Penumbuhan semangat berprestasi sekaligus berkontribusi untuk kebanggaan dan kejayaan almamater bermula dari adanya persepsi positif dari setiap mahasiswa terhadap apapun yang berhubungan dengan almamaternya (fasilitas, lingkungan, senior, aktifitas akademik, dll). Persepsi positif dibentuk dari informasi (dosen, senior, pegawai, teman) dan lingkungan (kegiatan belajar mengajar, praktikum, organisasi mahasiswa, dll) yang mendukung penumbuhan persepsi positif tersebut. Informasi dan lingkungan yang ada di kampus, agar mendukung terbentuknya perpsepti positif, harus dikondisikan sedemikian rupa agar ber-iklim atau ber-atmosfer positif (juga). Hal ini dapat dikondisikan oleh para senior dan pengurus organisasi yang ada di kampus melalui berbagai aktivitas kegiatan yang mereka lakukan, terutama pada setiap acara dengan fungsi kaderisasi.

Persepsi positif tersebut misalnya meliputi ilmu dan wawasan apa yang akan didapat dari almamaternya, bagaimana prospek setelah lulus, keahlian dan ketrampilan apa yang bisa didapatkan. Dan hal positif lainnya yang dapat diperoleh setelah mahasiswa masuk dalam lingkungan kampus. Persepsi positif terhadap almamater sangat penting dalam menentukan seorang mahasiswa ingin berprestasi dan juga berkontribusi untuk almamaternya. Budaya dan amosfer ini lah yang dapat ditumbuhkan oleh organisasi mahasiswa kepada mahasiswanya agar persepsi positif dan kebanggaran almamater tumbuh dan bersemi dalam diri setiap mahasiswa, sehingga membantu mahasiswa untuk beprestasi sekaligus berkontribusi kepada almamater dan bangsa.

Kekuatan atau kompetensi dari suatu organisasi akan lebih ditentukan oleh intangible asset berupa sumber daya manusia yang berkemampuan serta organisasi pembelajar untuk dapat bersaing pada masa yang akan datang.

Apa yang Mempengaruhi Mahasiswa Berprestasi?
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan mahasiswa untuk mencapai prestasi yang optimal, yaitu inteligensi, kepribadian, lingkungan kampus, dan lingkungan rumah. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam mencapai prestasi optimal yaitu self-regulation (SR). Usaha individu untuk mencapai tujuan belajar dengan mengaktifkan dan mempertahankan pikiran, emosi dan perilaku disebut self-regulated learning (SRL). SRL bukan merupakan kemampuan mental (inteligensi) atau keterampilan akademik seperti kecakapan membaca, tetapi suatu proses pengarahan diri yang melibatkan transformasi dari kemampuan mental menuju keterampilan akademik individu

Seperti apa yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa mahasiswa dapat berprestasi atau kah tidak akan ditentukan oleh faktor internal dan eksternal, faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan faktor eksternal adalah yang berasal dari luar dirinya. Faktor internal, menurut banyak ahli merupakan penentu dari kesuksesan seorang mahasiswa mencapai prestasi optimal. Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi pencapaian mahasiswa, namun hanya sebatas mempengaruhi tidak menentukan. Faktor internal yang dimaksud adalah contohnya motivasi, semangat, dorongan dari dalam diri untuk berprestasi. Kesadaran untuk berprestasi diatas rata-rata yang nantinya akan memunculkan motivasi, semangat, dan dorongan didalam dirinya. Motivasi tersebut hanya akan mencapai sasaran jika mahasiswa menemukan cara bagaimana mencapai targetnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang bagaimana mencapai target atau prestasi yang diinginkan harus dipunyai setiap mahasiswa. Pemahaman tentang diri sendiri, pemahaman tentang manajemen diri, manajemen waktu, dan penentuan prioritas dan juga life mapping sangat perlu dikuasai oleh setiap mahasiswa agar mereka tahu cara dan jalan mencapai prestasi yang mereka inginkan. Seperti juga yang telah dijelaskan pada paragraph sebelumnya, bahwa kemampuan dalam mengatur dirinya (self-regulated), terutama bagi mahasiswa yang dianggap telah mandiri dan dewasa, merupakan hal yang sangat penting untuk mendukung pencapaian target prestasi mereka.

Selain faktor internal, faktor eskternal berpengaruh terhadap motivasi mahasiswa untuk berprestasi, diantaranya adalah lingkungan, baik lingkungan kampus, lingkungan pergaulan, maupun keluarga. Lingkungan kampus, berupa amosfer akademik yang tinggi, iklim belajar dan beprestasi yang tinggi, yang dibangun oleh setiap elemen yang ada di kampus akan sangat menentukan seberapa besarkah motivasi beprestasi pada setiap individu mahasiswanya. Jika amosfer, iklim, dan budaya prestatif telah ada di lingkungan kampus, setiap mahasiswa yang baru masuk kedalam kampus tersebut, sudah dapat dipastikan mereka akan langsung termotivasi untuk juga berprestasi seperti mahasiswa kebanyakan dikampus tersebut. Pergaulan atau pertemanan juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bertingakah laku, berpikir, dan berucap. Banyak orang mengatakan “jika kamu ingin menjadi dokter maka bergaulan dengan dokter, jika kamu ingin menjadi guru bergaullah dengan guru, dan jika kamu ingin menjadi orang sukses maka bergaullah dengan orang-orang sukses”. Dengan siapa kita bergaul, dengan siapa kita berteman, pasti akan mempengaruhi pola pikir dan tindak tanduk kita. Jika mahasiswa dapat berteman dengan mahasiswa lain yang mempunyai berorientasi prestasim, dapat dipastikan bahwa mahasiswa tersebut akan ikut terpengaruh, minimal ingin beprestasi seperti teman-temannya atau bahkan melebihi teman-temannya itu. Mahasiswa tersebut akan termotivasi melihat teman-temannya yang lain. Cara pandang, sikap, dan karakter prestatif dalam diri mahasiswa pun akan terbangun karena lingkungan pertemanan atau pergaulannya mendukung hal tersebut tercapai.

Prestasi Berawal dari Organisasi
Lingkungan pergaulan yang berorientasi prestasi tersebut, berdasarkan banyak pengalaman, lahir dari dunia organisasi mahasiswa. Mereka yang beprestasilah yang kebanyakan lahir dari rahim organisasi mahasiswa, apapun organisasinya. Berorganisasi artinya selain dapat menumbuhkan kemampuan soft-skill dan life-skill, tapi juga mengundang kesempatan untuk berpretasi. Fakta membutkitkan, mahasiswa yang banyak mendapatkan prestasi, seperti lomba karya tulis, penelitian, business plan, debat, prestasi dibidang kesenian dan budaya, olahraga, dan bahkan terpilih menjadi delegasi di acara internasional adalah mereka yang aktif di organisasi mahasiswa. Bahkan ajang pemilihan mahasiswa beprestasi yang setiap tahunnya diadakan adalah salah satunya ditentukan oleh keaktifannya di organisasi. Organisasi mahasiswa dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam membantu seorang mahasiswa menemukan kesadaran kemudian dorongan dan motivasi untuk berprestasi karena ia berada pada lingkungan pergaulan yang mendukung seorang mahasiswa mencapai prestasinya. Apapun bidang dan jenis prestasinya.

Mahasiswa yang aktif di organisasi mahasiswa umumnya akan lebih cepat mehami dirinya sendiri, menemukan jati diri dan prinsip hidupnya, sehingga mereka dapat mengatur diri dan waktu dengan baik untuk mencapai target-target mereka. Fakta telah membuktikan hal tersebut. Berorganisasi cenderung akan melahirkan pemahaman diri, jati diri, prinsip hidup, karakter, kepercayaan diri dan skill. Ada potongan kalimat dari seorang aktivis mahasiswa yang mengatakan bahwa: “Berorganisasi memunculkan teman. Berteman melahirkan pergaulan. Pergaulan membawa pada dinamika. Dan dinamika membawa kepada kematangan hidup sebagai seorang pembelajar”.

Maka, motivasi berprestasi lahir dari keaktifan kita berorganisasi. Berorganisasi membuka peluang untuk beprestasi.

Organisasi mahasiswa berperan besar dalam membangun budaya dan amosfer prestatif didalam kampus melalui kebijakan dan program kerja yang dilakukannya. Kebijakana dan program kerja yang dibuat oleh organisasi mahasiswa seyogyanya semuanya berorientasi prestatif. Selain itu, organisasi mahasiswa mempunyai peran dalam proses pendidikan dan kaderisasi mahasiswa, sehingga secara langsung sebenarnya organisasi mahasiswa mempunyai tanggung jawab dalam mendidik mahasiswa yang ada dikampusnya. Organisasi harus menjadi wadah pembelajaran sekaligus wada pendidikan, atau knowledge resource bagi setiap mahasiswa yang ada didalam organisasi tersebut maupun kepada mahasiswa lain secara luas. Organisasi maasiswa harus mengajarkan berbagai skill kepada mahasiswanya berdasarkan peran dan fungsi organisasi tersebut. Ada empat sendi pengembangan skill dan knowledge mahasiswa yaitu melalui organisasi mahasiswa, yaitu 1) akademik oleh HMJ (himpunan mahasiswa jurusan), 2) sosial politik oleh BEM dan SENAT/DPM,  3) minat bakat oleh UKM (unit kegiatan mahasiswa), dan 4) keagamaan/spiritual oleh lembaga mahasiswa berbasis agama. Keempat sendi aktivitas mahasiswa tersebut harus berjalan secara sinergis dan terintegrasi dalam satu kesatuan yang harmonis sehingga pengembangan softskill mahasiswa di perguruan tinggi dapat dicapai dengan sempurna atau COMPLETE.

Organisasi mahasiswa harus menjadi penanam nilai/value positif kepada mahasiswa melalui kegiatan dan aktifitas yang dilakukan. Organisasi mahasiswa adalah wadah yang sangat tepat untuk mendidik mahasiswa menjadi mahasiswa ideal yang sesungguhnya, dan sebagai tempat yang tepat untuk belajar tentang kehidupan dan memaknainya. Seperti yang sudah dijelaskan dimuka, organisasi mahasiswa harus bisa berperan dalam menumbuhkan persepsi positif mahasiswa kepada institusinya agar dorongan untuk berprestasi dan berkontribusi kepada almamater dan bangsa dapat tumbuh subur dikalangan mahasiswa. Organisasi mahaisiswa adalah bagian penting dalam menumbuhkan dan melestarikan budaya dan amosfer prestatif di kampus.

Mulailah dari Dalam Diri Sendiri
Mulailah menumbuhkan semangat bepretasi dari dalam diri. Karena semangat kuat untuk menggapai prestasi bermula dari dalam diri sendiri, dan itulah yang akan menentukan apakah kita akan mempunyai prestasi atau tidak. Diri sendirilah juga yang akan menggerakan kita menjadi mahasiswa yang biasa saja, seperti kebanyakan kita, ataukah akan melejit diatas rata-rata kita, menjadi mahasiswa yang punya prestasi. Prioritaskan memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem. Perbaikan diri adalah modal untuk memperbaiki sistem. Sistem yang baik dibuat dan dijalankan oleh individu yang baik. Semuanya berawal dari pembinaan diri. Perbaikan diri.

Kapasitas berbanding lurus dengan kontribusi. Ibarat sebuah gelas, semakin besar ukuran gelas akan semakin besar jumlah air yang bisa ia tampung dan berikan. Semakin besar dan banyak ilmu seseorang, semakin besar kontribusi dan kemanfaatannya bagi sesama.

Teruslah belajar dan berkontribusi untuk kejayaan almamater dan bangsa.

HIDUP MAHASISWA!!!

Senin, 09 Januari 2012

Sebuah Catatan Kecil Tentang Kepemimpinan...


Sebuah Catatan Kecil Tentang Kepemimpinan...

DEFINISI KEPEMIMPINAN



  1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
  3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
  4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
  5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.
MISI
TIM
INDIVIDU

* “Priorotas tertinggi adalah MISI. Individu yang terakhir”

PENGERTIAN  PEMIMPIN


Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).


SEORANG PEMIMPIN ITU...


  1. Berani Berubah
Keberanian untuk berubah bagi sebagian orang sangatlah sulit, tapi itu mungkin. Hanya sekedar keberanian, belum pada taraf berubah. Ketika keberanian itu tidak ada, maka perubahan adalah sesuatu yang mustahil
  1. Berani Introspeksi
Setelah kita berani berubah, proses selanjutnya adalah berani introspeksi. Seorang pemimpin harus mampu melihat diri sendiri sebelum mencoba melihat orang lain. Dengan melihat diri sendiri terlebih dahulu, kita akan lebih mudah dan tahu darimana kita akan memulai.
  1. Berani Beda
Seorang pemimpin harus berani “tampil” beda. Ini sangat berguna untuk menghasilkan sesuatu yang baru sehingga kepemimpinannya akan lebih terasa.
  1. Berani Mendengar
Menilai bahwa pendapatnya paling benar adalah salah. Pemimpin yang baik berani mendengar saran dan kritik dari orang-orang yang dia pimpin. Karena dalam hal ini, dia bukan memimpin dirinya sendiri. Tapi sebelum memimpin orang lain, belajarlah untuk memimpin diri sendiri
  1. Berani Berkorban
No sacrifice, no victory!!! Untuk mencapai sebuah kemenangan, kita perlu berkorban. Seorang pemimpin harus berani berkorban. Berkorban apa saja, bahkan juga nyawa.
  1. Berani Melangkah
Put It In to Action! Kita telah memiliki beberapa keberanian, yang paling akhir adalah keberanian untuk melakukan. Ya, tanpa ada aksi dan tindakan, semua hanya omong kosong. Dan perubahan tidak akan pernah terjadi.

PENTINGNYA KEPEMIMPINAN

           
Hal yang paling mendasar dalam pentingnya sebuah kepemimpinan adalah dengan adanya kepemimpinan, seorang pemimpin mampu melakukan sebuah perubahan dengan hasil yang lebih maksimal dibandingkan tanpa adanya kepemimpinan.

MORE THAN WORDS....


          “Hal tersulit dalam memimpin adalah bekerja dengan orang”

          “Seorang pemimpin harus dapat mengumpulkan orang-orang pandai dari berbagai disiplin dan keahlian dan membuat mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama”

          “Di dalam diri setiap prajurit ada seorang pahlawan. Merupakan tugas pemimpin untuk mengeluarkan pahlawan yang hidup dalam dirinya masing-masing”

            “Para pemimpin menghadapi tantangan yang ditakuti orang lain”

            “Kebesaran seorang pemimpin diuktu dari besarnya tugas yang menjadi tanggungjawabnya”

            “Kepemimpinan bukan kontes popularitas. Pemimpin menginspirasi orang lain untuk menjadi pemimpin”.

SECUIL ARTIKEL TENTANG....


Memulai Sebuah Perubahan

Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan,maupun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.

Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang bersamaan,ternyata keluarganya 'babak belur', di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.
Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

              Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri.Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.

             Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

              Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses manapun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya.Kata kuncinya adalah keberanian.Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati.

             Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa  sekali pun. Tapi, kalau ada  orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang  kekurangan itu secara sistematis,  lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang  besar.

               Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak  mengucap sepatah kata pun  untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti  bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat  dan merasakannya.

                Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan  dirasakan. Tapi percayalah, itu  akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang  simpati dan terdorong untuk juga  melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.
 
             Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya  mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.
 
               Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri.Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.

Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali
dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien.


“Lalu..., apa manfaat menjadi seorang pempimpin?”   jawabannya....
“Jadilah PEMIMPIN, maka kamu akan merasakan manfaatnya....!!!”

*dari berbagai sumber...

Disampaikan Oleh :
Andi Irfhana Ardhi
Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Angkatan 2009
0878 3941 0283 / 0857 2595 6035S

Horizontal Scroll: Motto Hidup : 
Ø Al-Insyiroh : 5-6
Ø “ Khoirunnasi ‘Anfauhum Linnas (Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk manusia yang lain)”